<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bangunanintelektual's Weblog</title>
	<atom:link href="http://bangunaninteletual.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bangunaninteletual.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 May 2008 08:49:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bangunaninteletual.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/4c9a7eeb9f7b9ba500f655bd9b34fdea?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bangunanintelektual's Weblog</title>
		<link>http://bangunaninteletual.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>SINKRETISME SEBAGAI BENTUK DAN CIRI ISLAM-JAWA</title>
		<link>http://bangunaninteletual.wordpress.com/2008/05/16/sinkretisme-sebagai-bentuk-dan-ciri-islam-jawa/</link>
		<comments>http://bangunaninteletual.wordpress.com/2008/05/16/sinkretisme-sebagai-bentuk-dan-ciri-islam-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 08:38:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangunaninteletual</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makalah]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangunaninteletual.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Makalah ini disarikan dari berbagai sumber untuk memenuhi tugas perkuliahan islam dan kebudayaan jawa di FT IAIN Walisongo Semarang
Disusun oleh:
Musyafak  (3105080)
Saekul Anwar  (3105066)
Resmi Handayani  (3105075)
Dewi Seftianti  (3105078)
Farid Ma’ruf  (3105082)
Ikromah  (3105085)
 
I. PENDAHULUAN
Penyebaran agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-15 dihadapkan kepada dua jenis lingkungan, yaitu budaya kejawen (istana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangunaninteletual.wordpress.com&blog=3741209&post=3&subd=bangunaninteletual&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Makalah ini disarikan dari berbagai sumber untuk memenuhi tugas perkuliahan islam dan kebudayaan jawa di FT IAIN Walisongo Semarang</p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Disusun oleh:</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Musyafak <span> </span>(3105080)</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Saekul Anwar <span> </span>(3105066)</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Resmi Handayani <span> </span>(3105075)</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Dewi Seftianti <span> </span>(3105078)</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Farid Ma’ruf <span> </span>(3105082)</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Ikromah <span> </span>(3105085)</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"><span>I.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">PENDAHULUAN</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Penyebaran agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-15 dihadapkan kepada dua jenis lingkungan, yaitu budaya kejawen (istana Majapahit) yang menyerap unsur-unsur Hindunisme dan budaya pedesaan. Dalam pada itu terjadi <em>culture contact<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">[1]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></em> yang kemudian berbuah akulturasi antara dua arus nilai yang sama besarnya, yaitu asimilasi antara ajaran Islam dengan budaya Jawa, baik dalam lingkungan keraton maupun pedesaan.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Proses akulturasi yang berangsur-angsur sedemikian rupa membuat Islam sebagai ajaran agama dan Jawa sebagai entitas budaya menyatu. Akulturasi yang berusaha memadukan dua ajaran itulah yang dalam khazanah studi budaya dimanakan sinkretisme. Dalam hal ini sinkretisme merupakan sebuah pendekatan budaya terkait bagaimana nilai-nilai asing memasuki suatu ruang dan pengaruhnya terhadap budaya yang berbeda.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Pengaruh Islam yang begitu besar di Jawa saat itu, dan juga kuatnya masyarakat mempertahankan budaya Jawa, mengharuskan keduanya melebur menjadi satu. Peleburan dan pencampuran yang merupakan ciri khas sinkretisme dua budaya itu berlangsung secara damai. Karena di samping pendangan hidup Jawa yang sangat <em>tepo seliro</em>, juga metode penyebaran Islam oleh Walisongo yang elastis dan akomodatif terhadap unsur-unsur lokal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Berdasarkan abstraksi tersebut, kami mencoba mengurai tentang “sinkretisme sebagai bentuk dan ciri islam-jawa” dan Pusat Persebarannya sebagai sebuah analisis pustaka terhadap fenomena penyatuan Islam-Jawa yang ada sampai saat ini. Dalam makalah ini, kami tidak mau terjebak dalam lingkaran pro-kontra yang sampai saat ini terjadi; yakni sinkretisme sebagai ketidakmurnian agama sebagai wahyu Tuhan karena telah bercampur oleh muatan-muatan local yang merupakan buah karya manusia, atau sebaliknya. Justru di sini akan membingkai corak hubungan antara Islam dan Jawa dalam kacamata budaya yang tentunya berpijak pada interaksi empiris.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"><span>II.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">PEMBAHASAN</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Sinkretisme menjadi bahasan yang sangat pendting dalam studi Islam-Jawa karena keduanya telah menjadi bagian maysarakat Jawa yang tak terpisahkan sejak Islam memasuki pulau Jawa. Oleh karena itu, dalam mengurai sinkretisme Islam-Jawa perlu diketahui latar belakang sinkretisme Islam Jawa, paktik-praktik sinkretisme Islam-Jawa, dan pusat persebaran sinkretisme Islam-Jawa.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"><span>A.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Latar Belakang Lahirnya Sinkretisme Islam-Jawa</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Membaca lahirnya sinkretisme Islam-Jawa ada baiknya jika dihubungkan dengan masuknya Islam di Jawa. Ada tiga hal yang sangat penting untuk diketahui berkaitan dengan<span> </span>latar belakang sejarah sinkretisme Islam-Jawa. </span><em><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Pertama</span></em><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">, pada waktu itu sejarah Islam tercatat dalam periode kemunduran. Runtuhnya Dinasti Abbasiyah oleh serangan Mongol pada 1258 M., dan tersingkirnya Dinasti Al-Ahmar (Andalusia/Spanyol) oleh gabungan tentara Aragon dan Castella pada 1492 M menjadi pertanda kemunduran politik Islam. Begitu juga arus keilmuan dan pemikiran Islam saat itu terjadi stagnasi.</span><a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Hal ini berpengaruh pada tipologi penyiaran Islam yang elastis dan adaptif terhadap kekuatan unsur-unsur lokal, mengingat kekuatan Islam baik secara politik maupun keilmuan sedang melemah. Bertepatan pada akhir abad XV di mana terjadi Islamisasi secara besar-besaran di tanah Jawa, maka metode dakwah Islam seperti pada umumnya waktu itu bercorak apresiatif dan toleran terhadap budaya dan tradisi setempat.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><em><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Kedua</span></em><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">, pandangan hidup masyarakat Jawa sangat <em>tepo seliro</em> dan bersedia membuka diri serta berinteraksi dengan orang lain. Menurut Marbangun Hardjowirogo, masyarakat Jawa lebih menekankan sikap atau etika dalam berbaur dengan seluruh komponen bangsa yang bermacam-macam suku dan bahasa, adat dan termasuk agama. Karena manusia Jawa sadar bahwa tak mungkin orang Jawa dapat hidup sendiri. Pandangan demikian senada dengan filsafat Tantularisme khas Jawa yang mengajarkan humanisme dalam segala bidang dan menentang segala bentuk ekslusivisme dan sektarianisme.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Pandangan hidup masyarakat Jawa seperti ini lebih mempermudah dalam menerima ajaran Islam yang kategorinya paham asing. Akhirnya proses interaksi antara keduanya tidak bersifat konfrontatif, sebaliknya bersifat akomodatif dan toleran. Kedua hal itulah yang melatarbelakangi sinkretisme Islam dengan budaya kejawen terjadi sangat mudah dan seakan tanpa sekat.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Ketiga, sebelum Islam membumi di Jawa, yang membingkai corak kehidupan masyarakat adalah agama Hindu-Budha serta kepercayaan animisme maupun dinamisme. Hindu, Budha, animisme maupun dinamisme yang menjadi system kepercayaan atau agama tentunya (sesuai agama-agama lain) telah mengajarkan konsep-konsep religiusitas yang mengatur hubungan menusia dengan Tuhan yang diyakini sebagai pencipta alam.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Bahwasanya pada dasarnya semua system kepercayaan maupun agama telah membangun nilai-nilai universal tentang tatanan hubungan manusia dengan Tuhan maupun dengan sesamanya, merupakan esensi dan substansi ajaran yang terserap dalam tradisi-tradisi local di tanah Jawa. Hal ini secara langsung mempengaruhi pemikiran masyarakat Jawa terhadap nilai baru yang bernama Islam. Untuk meneropong universalisme budaya dan agama Jawa terhadap substansi ajaran agama lain, dapat kita lihat dengan mendekatkan ajaran-ajaran tersebut, yakni Hindu, Budha, animisme dan dinamisme yang menjadi prinsip keberagamaan masyarakat Jawa Pra-Islam.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;"><span> </span>Spiritualitas dan religiusitas yang menjadi pijakan keberagamaan orang Jawa yang terkandung dari keempat unsur tersebut jika kita benturkan dalam “kesalihan” Jawa tidak lain adalah untuk mencapai satu titik tertinggi, yaitu <em>kasunyatan</em> atau kesejatian hidup. Tak berbeda dengan Islam, sebagai ajaran agama nilai-nilai ajaran yang ada di dalamnya pun memuat prinsip-prinsip kepercayaan masyarakat Jawa, khususnya berkaitan dengan keberadaan sang pencipta atau Tuhan. Dalam semua tradisi tersebut, termasuk Islam, Tuhan merupakan wujud kekuatan adikodrati yang mengendalikan segala sesuatu yang manusia harus tunduk kepada-Nya dalam bentuk pengabdian.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Dengan menggunakan kerangka berpikir sedemikian, Islam menjadi mudah diterima dan menyatu di dalam masyarakat merupakan sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan. Pandangan Jawa yang meyakini <em>agama ageming aji</em>, adalah falsafah yang mengajarkan bahwa agama merupakan sebuah ajaran agar kehidupan yang dijalani mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai ketuhanan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Tiga hal inilah yang melatarbelakangi masuknya Islam di tanah Jawa terhitung cukup mudah dan bisa berinteraksi secara damai dengan masyarakat. Tetapi di samping itu, tidak terlepas pula peran besar Walisongo yang menggunakan metode yang toleran dan akomodatif terhadap budaya dan agama Jawa.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Pada masa awal sinkretisasi Islam-Jawa, agama Islam lebih dulu kuat di pedesaan. Setelah itu, baru kemudian Islam masuk ke ranah perpolitikan. Berdirinya Kerajaan Demak<span> </span>pada abad XVI sekaligus sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa adalah bukti usaha <span> </span>penyiaran Islam yang dipelopori oleh Walisongo dengan membangun kekuatan politik.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dan secara keseluruhan model-model etika menghormati kepercayaan yang sudah ada ditekankan sekali, dan sinkretisme-lah metode yang paling tepat pada waktu itu untuk menyebarkan Islam.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Dengan membangun kekuatan politik, Islam secara otomatis menjangkau lapisan masyarakat kelas bangsawan atau priyayi. Hal ini merupakan modal besar bagi Islam untuk dapat berakulturasi dengan budaya setempat dan mempunyai pengaruh yang lebih besar, mengingat kerajaan merupakan pusat perkembangan budaya sekaligus sebagai pusat dinamika masyarakat saat itu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"><span>B.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Sinkretisme sebagai bentuk Islam-Jawa</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Sebelum Islam tumbuh dan berkembang di Jawa, tradisi yang berlangsung adalah dan ajaran Hindu-Budha maupun kepercayaan dinamisme dan animisme. </span><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Kemudian muatan-muatan simbolis <span> </span>maupun nilai-nilai Jawa serta agama <span> </span>dipadukan pada saat penyebaran Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Berbicara mengenai budaya Jawa, maka yang kita rujuk adalah tradisi Hindu-Budha yang saat itu menjadi entitas budaya yang sangat besar di tanah Jawa. Di samping tradisi tersebut, kepercayaan animisme dan dinamisme sebagai ikatan religi menjadi hal yang sangat penting untuk ditelisik karena hal ini berkaitan dengan mistisime budaya maupun mistisime agama di pulau Jawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Proses sinkretisasi antara Islam dengan Jawa yang berlangsung lembut, menyatu, dan bersifat total, pada akhirnya menjadikan Islam-Jawa seakan-akan tidak bisa dipisahkan sampai satu sama lain. Bahkan, jika kita meneropong Jawa saat ini yang terlihat adalah ciri Islam yang begitu besar mempengaruhinya. Begitu juga sebaliknya, jika kita meneropong Islam di Jawa, maka tradisi-tradisi Jawa pun sangat kental bercampur dengannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Adapun sinkretisme Islam-Jawa ini terpadu dalam penggabungan antara dua agama/aliran atau selebihnya. Menggabungkan dua agama/aliran atau lebih dimaksudkan untuk membentuk suatu aliran baru, yang biasanya merupakan sinkretisasi antara kepercayaan-kepercayaan lokal dengan ajaran-ajaran agama Islam dan aagama-agama lainnya. </span><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Dari masing-masing agama tersebut diambil yang sesuai dengan alur pemikiran masyarakat setempat.</span><a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> Penggabungan dari nilai-nilai ajaran yang berlainan ini pada akhirnya berujung pada sinkretisme kepercayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Pada aspek kepercayaan, fondasi Islam telah<span> </span>menyatu dengan berbagai unsur keyakinan Hindu-Budha maupun kepercayaan primitif. Sebutan Allah dengan berbagai nama yang terhimpun dalam <em>asma&#8217; al husna </em>telah berubah<span> </span>menjadi <em>Gusti Allah</em>, <em>Gusti Kang Murbeng Dumadi </em>(<em>al-Khaliq), Ingkang Maha Kuwaos (al-Qadir), Ingkang<span> </span>Maha Esa (al-Ahad), Ingkang Maha Suci,</em> dan lain-lain.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Nama-nama itu bercampur dengan nama dari agama lain<span> </span>sehingga muncul sebutan <em>Hyang Maha Agung</em> (<em>Allahu Akbar), Hyang Widi, Hyang Jagad Nata (Allah rabb al-alamin), atau<span> </span>Sang Hyang Maha Luhur (Allah Ta&#8217;ala). </em>Kata <em>Hyang </em>berarti Tuhan atau lebih tepatnya dewa, sehingga <em>ka-Hyang-an </em><span> </span>diartikan sebagai tempat para dewa. Dalam hal ini Allah terhayati sebagai pribadi yang menjadikan, memelihara, memberikan<span> </span>petunjuk, dan memberi rizki kepada semua makhluk ciptaan-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Ritual menjadi simbol Jawa yang tak dapat menghindar pula dari sinkretisasi dengan Islam. Ritual hal ini mengacu kepada tradisi-tradisi dalam budaya Jawa yang berusaha selalu menggapai keamanan dan ketentraman serta menghindari bencana dan kekacauan. Oleh karena itu, ritual merupakan kesalihan masyarakat yang senantiasa menjunjung tinggi dan percaya kekuatan dan kekuasaan yang lebih besar (yang dipercaya sebagai pengendali).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Misalnya, dalam konteks masyarakat tradisonal di Jawa, pergantian waktu dan perubahan fase kehidupan diyakini sebagai saat-saat genting yang perlu dicermati dan diwaspadai. Untuk itu, mereka mengadakan crisis rites dan rites de passage, yakni upacara peralihan yang berupa slametan, kenduri atau makan bersama, prosesi dengan benda-benda keramat, dan sebagainya.</span><a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> Berbagai ritual dalam tradisi kejawen biasanya juga diiringi dengan serangkaian upacara dalam berbagai bentuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Di samping dua aspek (agama dan ritual) tadi, sinkretisme Islam-Jawa sangat kentara dengan penggabungan antara agama dengan budaya lokal. Yang dimaksud dalam konteks penggabungan agama dengan budaya lokal adalah melaksanakan syariat Islam dengan kemasan budaya Jawa.</span><a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> Dengan demikian, substansi syariat yang dijalankan tetap sesuai dengan koridor ajaran Islam, tetapi tampilan luarnya mengadopsi tradisi-tradisi lokal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Sebagai contoh, berbakti kepada orang tua dan bersaling memaafkan adalah sebuah kewajiban dalam Islam. Dalam melaksanakan syariat ini masyarakat Jawa biasanya menggunakan media <em>sungkem</em>. Sungkem yang biasanya bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri tidak bisa terlewati tanpa hidangan <em>kupat</em> dan <em>lontong</em>. Dua hidangan tersebut merupakan simbol pengakuan manusia akan dosa dan saling memaafkan. Secara <em>keratabasa</em>, <em>kupat</em> dapat diartikan <em>ngaku lepat</em>, sedangakan <em>lontong</em> diartikan sebagai <em>olonone kothong</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">C.<span> </span>Pusat Persebaran Sinkretisme Islam-Jawa</span></strong><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Diakui atau tidak, sinkretisme benar adanya berkembang seiring ketika Islam “bertarung” dengan budaya Jawa. Benturan halus terjadi dan memang harus terjadi sehingga Islam mudah diterima. Asimilasi ajaran Islam dengan budaya lokal pada mulanya dimulai dari pedesaan dan daerah (yang tidak banyak membutuhkan peran perpolitikan yang besar). Baru setelah besar di pedesaan (sekitar Pantura) para ulama menjadi raja-raja kecil yang kemudian mendirikan kesultanan pertama Demak. Dari situ perpolitikan berperan besar dalam persebaran Islam.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Berbicara mengenai persebaran sinkretisme Islam-Jawa kita harus hati-hati dalam membingkai sociogeografis masyarakat Jawa saat itu. Karena secara umum sinkretisme antara Islam dan budaya lokal telah memasuki berbagai lini kehidupan di berbagai daerah. Namun, berdasarkan kondisi social-geografis, kita dapat lebih jeli intensitas persebaran pencampuran ajaran Islam dan Jawa.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Dalam hal ini, tidak salah jika kita menggunakan kerangka analisis Clifford Geertz yang mengklasifikasikan masyarakat Islam-Jawa ke dalam tiga varian, yaitu; <em>abangan</em>, <em>santri</em>, dan <em>priyayi</em>.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Pembacaan ini, oleh Geertz disandarkan pada asumsi bahwa pandangan dunia Jawa adalah agama Jawa yang dihadapkan pada system stratifikasi social di Jawa.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Pertama, abangan adalah golongan yang mengamalkan ajaran Islam yang kemudian dipadukan dengan tradisi dan kepercayaan local. Secara geografis, abangan <span style="color:black;">adalah sebutan untuk rakyat desa, para petani, yang hidup dalam wilayah pedalaman. Abangan inilah, yang oleh Geertz disebut sebagai Islam sinkretisme. Karena kaitannya dengan pengamalan agama, masyarakat pedalaman menghayati agama secara sinkretistik dimana Islam telah bercampur baur dengan unsur animisme dan Hinduisme.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;font-weight:normal;">Tipologi masyarakat pedalaman adalah masyarakat yang bercorak mistik dalam memandang kehidupan dunia. Oleh karena itu, di pedalaman nuansa kepercayaan <em>takhayaul</em> dan <em>klenik</em> yang sangat kental. Ini berbeda dengan tipologi masyarakat pesisir yang lebih bercorak sedikit rasional karena intensitas informasi yang masuk kepada mereka lebih banyak.</span><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Kedua, <em>santri</em> adalah golongan yang berusaha mengamalkan Islam sesuai dengan ajaran yang pertama datang kepada mereka. Geertz menyebut pula golongan ini adalah Islam yang berada dalang lingkaran fundamentalisme ajaran Islam. <span style="color:black;"></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Secara geografis, golongan santri biasanya berada dalam wilayah di sekitar pesisir pulau Jawa. Karena pesisir yang berdekatan dengan laut menjadi titik tolak penyebaran Islam yang berasal dari Timur Tengah. Golongan santri dinilai lebih <em>pure </em>(murni) dalam menjalankan syariat Islam.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Corak santri diwarnai pula dengan tradisi pemahaman agama Islam yang cukup mendalam. </span><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Itu sebabnya, banyak muncul pesantren (tempat belajar mendalami agama Islam) di sepanjang pantura pulau Jawa. Walaupun memang Walisongo saat itu berkonsentrasi lebih di lingkungan pesisir Jawa.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;font-weight:normal;">Santri yang kategorinya adalah orang yang melaksanakan kewajiban agama secara cermat dan teratur dalam hal ini juga sesuai apabila disematkan pada masyarakat yang bermatapencaharian sebagai pedagang karena interaksinya dengan dunia luar yang cukup intens. Mengingat<span> </span>pedagang saat itu lebih berkosentrasi pada dunia pelayaran.</span><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;font-weight:normal;">Ketiga, priyayi adalah golongan bangsawan (aristokrat) yang dekat dengan kekuasaan, yang penghayatan agamanya banyak dipengaruhi oleh Hinduisme. Berbicara mengenai golongan priyayi, wilayah keraton atau kerajaan menjadi latar utama persebaran golongan ini. Pada umumnya golongan priyayi hidup dalam lingkaran tradisi kejawen yang sangat kuat mengingat istana merupakan pusat kekuatan budaya saat itu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;font-weight:normal;">Dalam mengamalkan Islam, golongan priyayi cenderung pada penggabungan ajaran agama dengan tradisi kejawen. Adapun tradisi kejawen yang subur di lingkungan kerajaan saat itu adalah Hinduisme yang sangat kuat mengakar. Dengan demikian golongan priyayi dalam kesehariannya mengamalkan Islam secara sinkretik.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;font-weight:normal;">Berkaitan dengan klasifikasi abangan, santri, dan priyayi dalam rangka membaca persebaran sinkretisme Islam-Jawa, ada baiknya kita juga melihat dinamika politik Islam di Jawa. Adapun jika kita berbicara mengenai politik Islam di Jawa, merupakan keharusan untuk meneropong sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;font-weight:normal;">Setelah Islam berkembang di wilayah pesisir dan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, kekuatan politik Islam mulai dibangun. Berdirinya Kerajaan Demak pada abad XVI yang dirintis oleh Walsiongo, merupakan bukti nyata bahwa penyebaran Islam mulai menggunakan legitimasi kekuasaan dan kekuatan politik.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;font-weight:normal;">Menguatnya agama Islam di Jawa terjadi pada saat Islam menyebar sampai wilayah pedalaman. Basis kekuatan politik yang dibangun dengan kerajaan mendukung syiar Islam untuk sampai ke masyarakat pedesaan yang dikategorikan dalam wilayah pedalaman. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;font-weight:normal;">Pada abad XV Majapahit makin pudar kekuasaannya, tetapi Islam yang sudah menapak di pantai utara Jawa makin memperkuat kedudukannya. Dari pantai utara (Demak) Islam menerobos makin jauh ke pedalaman dan serentak dengan itu kerajaan Majapahit yang Hindu berakhir riwayatnya. Para pahlawan penyebar Islam di Jawa biasanya disebutkan Walisongo (sembilan wali) yang sering melakukan pendekatan kebudayaan dalam menyebarkan Islam.<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;font-weight:normal;">Dengan makin berkembangnya agama Islam ke pedalaman Jawa, agama Islam yang semula dikembangkan oleh kaum pedagang di pantai utara mau tidak mau memasuki ruang lingkup pedalaman yang agraris tempat unsur keramat (karamah) den berkat (barakah) sangatlah penting untuk melanggengkan kehidupan. Mungkin saja mula-mula ditolak tetapi kemudian diterima dengan tangan terbuka setelah melakukan penyesuaian seperti yang dilakukan oleh Walisongo leluhur pesantren. Legenda yang menyelimuti mereka menandakan penerimaan masyarakat dalam kontinuitas dengan kebudayaan sebelum beserta segala aspirasi religiusnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Sinkretisme Islam-Jawa semakin mengendap tatkala kerajaan Demak di pindah ke Pajang dan kemudian di Mataram, di mana keduanya secara geografis terletak di pedalaman. Pada saat kraton berada di Demak, yang berada di bibir pantai, hubungan dengan dunia luar relatif mudah dilakukan. Oleh karena itu, ekonomi masyarakat digerakkan lewat perdagangan antar pulau, yang dengannya para mubaligh dari luar Jawa dapat mengajar dan menyiarkan agama Islam kepada masyarakat Jawa, dan sebaliknya, masyarakat Jawa yang pengetahuan dan pemahamannya tentang Islam<span> </span>belum mapan dapat belajar ke tempat-tempat lain yang Islam-nya relatif lebih maju.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Tetapi, setelah kraton pindah ke pedalaman, ekonomi masyarakat lebih bertumpu pada pertanian, yang tidak memerlukan mobilitas penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya, akibatnya Islamisasi yang sudah berjalan secara evolutif, terhenti dan menyebabkan budaya serta kepercayaaan lama menjadi marak kembali.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dalam pada itu kekuatan politik Islam juga melemah sehingga perlu dilakukan syiar yang lebih menjunjung tinggi adat-istiadat setempat yang kembali menguat.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;font-weight:normal;">Islam</span><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;"> yang awalnya tersebar di daerah pesisir yang kategorinya tidak condong pada sinkretisme bahkan cenderung sedikit <em>purify</em>, saat masuk ke kerajaan daerah pedalaman beralih ke dalam mistisisme yang berlatar animisme dan dinamisme yang padu pula dengan budaya kejawen (Hindu-Budha). Dalam kurun waktu inilah Islam dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam bentuk sinkretisasi dengan budaya Jawa.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Sisa-sisa kekuatan politik Islam waktu itu terbangun dalam Kerajaan Mataram <span style="color:black;">Islam</span>. Karena pendiri Mataram, Senopati, adalah keturunan Majapahit, dia mengkawinkan unsur Hindu dengan <span style="color:black;">Islam</span>, Kejawen. Sinkretisme Islam-Jawa semakin subur setelah berdirinya Mataram Islam yang tetap menjaga tradisi-tradisi kejawen dalam ritual Islam.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Berdasarkan klasifikasi demikian, dapat diambil gambaran bahwa penganut Islam di wilayah sekitar pesisir yang tergolong dalam kaum <em>santri</em>, yakni masyarakat di sekitar pantai utara (pantura) Jawa, mengamalkan Islam dengan tidak menonjolkan nuansa sinkretisme. Sebaliknya, masyarakat pedalaman yang kental dengan corak msitisime Jawa beserta klenik di dalamnya dikategorikan sebagai Islam <em>abangan</em> yang mengamalkan Islam secara sinkretik. Begitu pula di lingkungan kerajaan, yang lebih cocok dalam klasifikasi <em>priyayi</em>, mengamalkan Islam dengan menggabungkannya terhadap tradisi kejawen yang bercorak hindu-budha. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Oleh karena itu dapat kita ambil gambaran sederhana bahwa pusat persebaran sinkretisme Islam-Jawa terletak pada sekitar masyarakat pedalaman dan masyarakat lingkungan kerajaan. Namun demikian pandangan yang dikemukakan di atas merupakan gambaran sinkretisme agama dan budaya di Jawa secara umum, dan pembacaan tersebut tidak sepenuhnya akurat.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Bahwa Islam pesisiran yang sering diidentifikasi lebih murni dari pada Islam pedalaman adalah tidak sepenuhnya benar. Mengingat di Indonesia –khususnya Jawa—varian-varian Islam itu dapat dilihat sebagai realitas sosial yang cukup unik dan rumit. Sehingga ketika berbicara tentang Islam pesisir pun tetap ada varian-varian Islam yang pada kenyataannya menunjukkan adanya fenomena bahwa Islam ketika berada di tangan masyarakat adalah Islam yang sudah mengalami humanisasi sesuai dengan kemampuannya untuk menafsirkan Islam. Demikian pula ketika berbicara tentang Islam pedalaman maupun Islam keraton/kerajaan, hakikatnya juga terdapat varian-varian yang menggambarkan bahwa ketika Islam berada di pemahaman masyarakat maka juga akan terdapat varian-varian sesuai dengan kadar paham masyarakat tentang Islam.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"><span>III.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">KESIMPULAN</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Berdasarkan paparan di atas, dapat kita tarik pemahaman bahwa proses penyebaran Islam di tanah Jawa menggunakan pendekatan kultural, yakni adaptif dan akomodatif dengan budaya dan tradisi setempat. Sehingga Islam dapat diterima oleh masyarakat Jawa meskipun akhirnya mengalami proses akulturasi dengan nilai-nilai setempat.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Setelah Islam dan Jawa bersenyawa menjadi satu dalam sebuah ikatan religius dan spiritual, keduanya sangat padu. Bahkan seakan-akan tidak bisa dibedakan sebenarnya yang mana budaya Jawa dan yang mana Islam. Kemudian pencampuran keduanya, atau yang tadi disebut sinkretisme menjadi bentuk dan ciri khas Islam di Jawa.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Selanjutnya, pusat persebaran sinkretisme yang terurai melalui pendekatan trikotomi Clifford Geertz; abangan, santri, dan priyayi mengantarkan kita pada realitas pemahaman masyarakat Jawa yang telah mengalami sinkretisasi dengan nilai-nilai budaya dan tradisi lokal setempat. Bahwa Islam sinkretik lebih kental di wilayah pedalaman atau yang tergolong <em>abangan</em> yang diselimuti dengan kepercayaan mistik dan <em>klenik</em>. Begitu juga kaum bangsawan yang hidup dalam tradisi kerajaan (<em>priyayi</em>), corak pengamalan Islam mereka kentara sekali dengan sinkretisme dengan menggabungkan ajaran Islam dengan kejawen. Kendati demikian, bukan sepenuhnya masyarakat pesisir melaksanakan ajaran Islam dengan tidak mencampuradukkannya terhadap pemahaman budaya setempat.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;">Dalam meneropong sinkretisme Islam-Jawa sebenarnya ada dua istilah sensitif yang sering muncul ke permukaan dan tak jarang dipertentangkan. Yaitu, “Islamisasi Jawa” dan “Jawanisasi Islam”. Secara umum pandangan dua terminologi tersebut sangat rumit untuk dibedakan karena realitas keIslaman di Jawa yang sangat rumit untuk ditelisik.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"><span>IV.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">PENUTUP</span></span><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;font-weight:normal;"></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0.0001pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Demikian makalah ini kami buat dengan mengumpulkan data kepustakaan dari berbagai sumber. Tidak lain adalah untuk memberikan pengantar mahasiswa<span> </span>dalam memahami studi Islam-Jawa. Namun di balik itu, kami sadar sepenuhnya bahwa di dalamnya masih terdapat banyak kelemahan. Oleh karena itu saran dan kritik konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan salanjutnya.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:center;text-indent:-36pt;margin:6pt 0 0.0001pt 45.05pt;" align="center"><strong><em><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Daftar Pustaka</span></em></strong></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Amin, Darori, et.all, <em>Islam dan Kebudayaan Jawa</em>, Yogyakarta: Gama Media, 2000.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;">Anwar, Dewi Fortuna, <em>Ka’bah dan Garuda: Dilema Islam di Indonesia?</em> dalam <em>Prisma</em>, Nomor 4. April 1984.</span><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Geertz, Clifford, <em>Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa</em> (Terjemahan<em> dari C. Geertz 1969)</em>, Jakarta: Pustaka Jaya: 1981.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Koentjaraningrat, <em>Sejarah Kebudayaan Indonesia</em>, Yogyakarta; Jambatan, 1954.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;">Saridjo, Marwan, et.all, <em>Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia</em>, Jakarta: Dharma shakti, 1979.</span><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Simuh, <em>Islam dan Pergumulan Budaya Jawa</em>, Jakarta: Teraju, 2003.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Sofwan, Ridin, et.all, <em>Islamisasi di Jawa: Walisongo Penyebar Islam di Jawa, Menurut Penuturan Babad</em>, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Sujamto, <em>Refleksi Budaya Jawa, dalam Pemerintahan dan Pembangunan</em>, Semarang: Dahara Prize, 1992.</span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:18pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 54pt;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"> Istilah <em>culture contact</em> sering digunakan dalam studi budaya yang menggambarkan proses awal terjadinya interaksi antara muatan asing dengan budaya lokal. Lihat dalam Koentjaraningrat, <em>Sejarah Kebudayaan Indonesia</em>, (Yogyakarta; Jambatan, 1954).</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:18pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 54pt;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"> Lihat Muhammad Tohir dalam <em>Sejarah Islam dari Andalus Sampai Indus</em>.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:18pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 54pt;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"> Sujamto, <em>Refleksi Budaya Jawa, dalam Pemerintahan dan Pembangunan</em>, (Semarang: Dahara Prize, 1992), hlm. 71-72.</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:18pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 54pt;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"> Walisongo memegang peran sentral dalam penyebaran Islam di Jawa. Metode yang mereka gunakan pada umumnya dengan melakukan pendekatan cultural. Baca, Ridin Sofwan, et.all, <em>Islamisasi di Jawa: Walisongo Penyebar Islam di Jawa, Menurut Penuturan Babad</em>, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000).</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:18pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 54pt;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"> Simuh, <em>Islam dan Pergumulan Budaya Jawa</em>, (Jakarta: Teraju, 2003), hlm. 65-67.</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:18pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 54pt;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"> Darori Amin, et.all, <em>Islam dan Kebudayaan Jawa</em>, (Yogyakarta: Gama Media, 2000), hlm. 97.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:18pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 54pt;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"> Darori Amin, et.all, <em>Op.cit</em>, hlm. 104.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:18pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 54pt;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"> <em>Ibid</em>, hlm. 107.</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:18pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 54pt;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"> Clifford Geertz, <em>Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa</em> <em>(</em>Terjemahan<em> dari C. Geertz 1969)</em>, (Jakarta: Pustaka Jaya: 1981), hlm. 318.</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:18pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 54pt;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"> <span style="color:black;">Uraian tentang <em>abangan</em>, <em>santri</em> dan <em>priyayi</em> berdasarkan analisis C. Geertz dalam <em>Abangan</em>, <em>Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa</em> <em>(</em>Terjemahan<em> dari The Religion of Java)</em> (Jakarta: Pustaka Jaya, 1981), hlm. 1-9.</span></span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:18pt;margin:0 26.65pt 0.0001pt 54pt;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"> <span style="color:black;">Marwan Saridjo, et.all., <em>Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia</em>, (Jakarta: Dharma shakti, 1979), hlm. 18-21.</span></span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:Garamond;"> Darori Amin, et.all, <em>Op.cit</em>, hlm. 96.</span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bangunaninteletual.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bangunaninteletual.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bangunaninteletual.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bangunaninteletual.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bangunaninteletual.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bangunaninteletual.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bangunaninteletual.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bangunaninteletual.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bangunaninteletual.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bangunaninteletual.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bangunaninteletual.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bangunaninteletual.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangunaninteletual.wordpress.com&blog=3741209&post=3&subd=bangunaninteletual&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangunaninteletual.wordpress.com/2008/05/16/sinkretisme-sebagai-bentuk-dan-ciri-islam-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/db440211bd09f70aa70f720babe425bf?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bangunaninteletual</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://bangunaninteletual.wordpress.com/2008/05/16/hello-world/</link>
		<comments>http://bangunaninteletual.wordpress.com/2008/05/16/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 08:12:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangunaninteletual</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangunaninteletual.wordpress.com&blog=3741209&post=1&subd=bangunaninteletual&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bangunaninteletual.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bangunaninteletual.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bangunaninteletual.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bangunaninteletual.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bangunaninteletual.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bangunaninteletual.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bangunaninteletual.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bangunaninteletual.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bangunaninteletual.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bangunaninteletual.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bangunaninteletual.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bangunaninteletual.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangunaninteletual.wordpress.com&blog=3741209&post=1&subd=bangunaninteletual&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangunaninteletual.wordpress.com/2008/05/16/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/db440211bd09f70aa70f720babe425bf?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bangunaninteletual</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>